23 Agustus 2022, Nyolo.
23 Agustus 2022
Perjalanan
awal kali tatkala aku beritikad rantau untuk melanjutkan studiku di Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Banyak joke mengenai sebutan kampusku ini: UMS
(Universitas Meh Solo) yaaa karena letaknya bukan di Solo sebenarnya tapi
justru di Sukoharjo yang mendekati Solo; UMS (Universitas Mahal Sekali) kalo
ini aku netral yaa, karena menurutku relatif tergantung kantong personal, tapi
yang banyak disinggung di medsos seperti itu adanya, terutama di tiktok-tiktok;
UGM-nya Solo (Universitas Gonilan Mentok) lagi-lagi karena letaknya, karena ums
ini berada di ujung gang sebuah kelurahan yaitu gonilan; kalau ada lagi
tambahin dikomen ygy.
Oke
lanjut cerita, aku berangkat ke solo diantar satu keluarga plus
saudaraku (bulek dan anaknya) serta tak lupa sopirnya (temen kakak saya). Aku
berangkat naik travel milik temen kakak saya, yang 3 tahun lalu juga
mengantarkan Izzul (kakak saya no 3) yang kuliah di ums juga (btw kakak saya ga
cuma 1 ya, jadi beda). Dulu saat mengantarkan Izzul ga ngajak saudara dan ga
bawa motor, kali ini mengantarkan saya membawa kedua-duanya. Seperti dulu, kini
perjalananku pun berbanding lurus dengan perjalanan dulu, yakni lewat jalan
tol. Terlintas kemarin di travel sopir bilang, “definisi waktu adalah uang, yo
ngene lewat tol, sing maune kalongan-solo 4-5jam barang lewat tol 2-3jam tok.”
Disambung kakakku, “bener koe, Mad”.
Aku
dan rombongan memulai perjalanan pukul 13:30, setengah jam sebelum itu
persiapan dengan memasukkan barang-barang bawaanku ke mobil dengan segala
kebutuhannya yang mungkin tetap saja belum lengkap. Mulai masuk area tol pukul
14:00, yang kemudian mlipir dulu di rest area daerah semarang
yang katanya komplit sehingga memang benar ramai sekali ketimbang rest area yang
lain yang kita lalui. Kebetulan juga sampai di rest area tiba juga waktu
asar, sehingga kita bergegegas menuju masjid di area setempat, dilanjut membeli
makanan dan minuman ringan di indomaret point. Sebelumnya sempet bingung mau
jajan dimana ya, karena banyak banget yang tersedia, mulai dari starbucks, kfc,
solaria, mart apa gitu lupa, modelan foodcourt, penjual gorengan, oleh-oleh
semarang, dan masih banyak yang lain.
Kaget
dan makdeg maktratap rasanya, saat mau beli minuman dan makanan di indomaret
karena harganya yang bisa dibilang ranguati , batinku, “anjir, ombenane
kok larang-larang, dek sing anyep tekan manis po bersoda po berion mundak
kabeh.” Sepintas seperti itu batinku kala itu, yang kalo orang-orang nyebutnya
hal tersebut adalah culture shock. Akhirnya memutuskan untuk membeli
susu yang tadinya 3k menjadi 7k dan Zidan (sepupuku) beli the pucuk 8k dan sari
roti 18k total 33k, yang kemudian kita makan di tempat duduk yang tersedia di
depan, sesaat sebelum keluar, saat mau membayar sempet batin juga, “kasire
wuakeh nemen, tapi kok dikone paling pojok, sana mas sana mas pojok,” pas udah
di depan kita makan dan minum sembari melihat lalu-lalang di rest area
dan zidan disambi nyebat sedang aku bau saja sudah tak mau. Banyak fenomena style
orang-orangnya, banyak model mobilnya, intinya banyak hal yang berbeda, satu
yang luar biasa yaitu ada mobil berplat DD yang kemungkinan dari Sulawesi
Selatan dan pikirku, “kok ya tekan kene, mantep tenan iki.”
Kemudian
lanjut perjalanan sekitar pukul 15:30 dan kita sampai di Kartasura pukul 16:30.
Segera dengan satset-satset menuju kos tercinta belakang ponpes As-Salam
Gonilan, sesaat sebelum menuju lokasi aku menemui Izzul dulu di Kampus Siti
Walidah, ia menunggu di KTD (Kantin Tepi Danau)nya UMS. Setelah bertemu lekas
menuju dusun Mendungan desa Mendungan kecamatan Kartasura kabupaten Sukoharjo,
karena Izzul lah yang tau dimana lokasi kosku dan ia yang menyurvei plus
membayar dp atas kosku sepekan lalu sebelum keberangkatan. Setibanya kami di kos,
Izzul menemui Pak Tugiman (tangan kanan Pak Sadeli selaku owner), lantas
dibukakan kamar kosku dan segera dengan dasdes-dasdes bersih-bersih dan memamsukkan
barang-barang bawaanku ke dalam kamar, dibantu personil keluarga. Ibu dan Bulek
Ronah menyapu, Izzul dan Zidan membelikan lampu baru karena sebelumnya lampu
kos belum memadai. Sedangkan, Aufa, Imam, dan Bapak membawakan barang-barangku
ke atas, berhubung kamar kosku berada di lantai 2. Saat itu juga, disambi minum
teh anget angkringan depan rumah kos ramai-ramai, ternyata murah sama halnya di
Pekalongan, 2ribu rupiah.
Setelah sekitar satu jam dengan
segala ke-tetekbengekan di kos merapihkan, kita lanjut ke pondok sobron,
pondoknya Izzul sekaligus melihat panggonan Izzul bertempat tinggal,
apalagi Ibuku yang super perhatian dengan anak-anaknya, “jadi kangen huhu”,
batinku sekarang sambil ngetik. Berjamaah solat maghrib dan menjamak solat isya
di musola sobron pondok timur, setelah itu
lanjut makan malam Bersama di pinggir jalan besar, yang mungkin sudah masuk
wilayah jalan slamet riyadi, Surakarta, tidak jauh dari pasar kleco. Kemudian sesudah
makan dan berfoto ria, kita bersilaturahmi ke Yayan tetangga rumah dulu, yang sekarang
sudah tinggal dan menetap di Pabelan
juga. Di sisi lain nganter aku, sekalian silaturahmi dan memperkenalkan
anak-anaknya, terlebih aku dan Izzul yang berkuliah di UMS. Setengah jam
berlalu bercengkrama ngalor ngidul, kita melanjutkan pulang ke kosku
untuk men-drop off aku di Solo. Sebelum keluarga beranjak dari Solo,
kita foto Bersama dulu sekalian menjadi tanda bukti melepas diriku untuk
menempuh Pendidikan di Kota Solo.
Sempat bergelimang air mata,
berkaca-kaca dan meneteskan air mata sedikit kutahan tapi tak kuasa jatuh juga.
Suara menjadi setengah berbeda, karena rasa yang begitu sedih akan ditinggal sosok
keluarga tercinta dengan segala dukungan dan penuh atensi kepada aku. Cukup
berat, bahkan berat sekali bagiku untuk jauh dari orang tua, terutama sosok
Ibu. Apalagi aku yang notabennya anak bontot, yang terkenal manja, tapi memang
betul, di dalam keluarga aku merasa aku yang paling manja dan itu relate.
Akhirnya mereka pamit, dan aku ditinggal berdua dengan Izzul, selalu kuucapkan
terima kasih kepada keluarga, dan selalu meminta doa dan dukungan, “suwun,
Mak, Pak, Dongoke anake sing apik-apik, ben dadi wong bener, soleh, lan sukses
donyo akherat.” Ucapku sebelum orang tuaku pergi meninggalkanku di Solo. Udah
cukup gakuat, rindu mak pak, sehat-sehat di rumah yaaaa.
Terima kasih sudah menyempatkan
mampir dan membaca ceritaku, maaf bila salah, semoga hari-hari kalian baik-baik
saja dan menyenangkan!
Sukoharjo, 29 Agustus 2022.
Salam Cinta, Rezza Fahlevi.
Comments
Post a Comment