Kacang itu Berkulit, Eh Apa Benar?

Setidaknya dalam hidup kita pernahlah mengevaluasi diri sendiri, merasa selama ini hidup kita berasal dari mana? apa kita lupa atau memang berlagak lupa? kulit oh kulit, mana kulit? 

Mungkin itu benak kali pertama saya tuk mencoba menulis kembali di blog pribadi di tahun 2023. Harapannya tetap bahagia terus dan jangan lupa sama kulit ya, hehe. 

Barang tentu dalam hidup, kita semua berjalan di jalan yang sama tetapi bisa saja di rute yang berbeda. Bisa juga berbeda kapan perjalanan itu dimulai, walaupun pada akhirnya memiliki tujuan yang sama. Dan dalam setiap perjalanan itu manusia bermacam-macam menjalaninya, ada yang naik kendaraan, jalan kaki, atau bahkan merangkak, mengengsot.

Luar biasa bukan, ternyata kita semua sudah berjalan sejak dahulu, sejak kita membuka mata, merangkak, dan akhirnya bisa berjalan dan berkendara. Kita juga semuanya berawal dari kecil hingga besar, ibarat angka dari 0 sampai 100 dan seterusnya. Setiap tahapan itu kita melalui langkah demi langkah: dari kecil, ke cukup besar, menjadi besar; dari 0,1,2,3,dst. Itu artinya kita harus tahu bahwa kita pernah dan dulu berawal dari kecil atau dari 0 ketika kita udah berkembang besar atau mencapai 100.

Manusia memang diberi kuasa untuk memegang kendali atas dirinya sendiri, diberi proses pada dirinya meskipun berbeda-beda antarsatu dengan yang lain. Yang perlu diingat adalah siapa yang membawa kita sampai pada proses ini; sudah apa saja yang kita lalui sampai pada titik ini. Saya tahu betul, kalian sekarang hebat, besar, dan keren banget. Tapi yang harus kalian ingat itu tadi, siapa yang membawa kalian sehingga kalian berada dalam posisi itu.

Hal kecil yang gampang untuk dijadikan contoh, terharu kan ketika kita lihat jaman SD, SMP, atau SMA, atau bahkan kemarin saja lah. Ternyata proses-proses itu yang membawa kita hari ini, detik ini. Banyak sekali yang dikorbankan untuk sampai di titik ini. Minimal ya itu, kita harus tahu dan harus ingat sama siapa saja kita dibantu ketika kita masih di bawah sehingga kita lupa diri saat kita sudah di atas. 

Contoh mudahnya: jangan sampai kita lupa pengorbanan orang tua dalam kehidupan. Dahulu kita semua bukan apa-apa tanpa support system yang luar biasa dari orang tua. Ibu hamil, nyawa yang jadi jaminan, menyusui, luar biasa kan? Pun peran Ayah yang juga luar biasa dalam menghidupi keluarganya. Begitu juga berlaku kepada siapapun yang sudah menjadi support kita selama ini: teman, sahabat, ibu/bapak guru, atau bahkan hanya seorang pembantu misalnya.

Yang menjadi poin penting dalam tulisan ini, jangan pernah kita semua menjadi besar tapi lupa kecilnya dulu kita. Ibarat peribahasa "Kacang Lupa Kulitnya". Intinya jangan pernah lupa sama setiap orang yang selama ini membersamaimu di posisi saat ini, pun bukan orang saja, bisa tempat, ruang, dan apa.

Comments

Popular posts from this blog

23 Agustus 2022, Nyolo.

Uniknya Idul Adha Tahun ini