Afirmasi Pelajar Bernalar Budaya-Intelektual

 Fenomena pelajar yang hari ini kian merambak, banyak pengaruh yang masuk mendoktrin akal sehat para pelajar. Menjadikan pelajar-pelajar itu dihadapkan dengane realita-realita yang sangat plural.

Pelajar dengan pemahaman yang baik, pasti mampu menentukan arah tujuan dirinya, tetapi sebaliknya, pelajar yang belum memiliki pemahaman yang baik, tentu arah yang mereka tuju pun tak jelas. Apalagi pelajar yang saat ini terkenal dengan dunia per-mabar-an, per-cafe-an, per-tiktok-an, dan lain sebagainya yang intinya untuk berfoya-foya, dengan alasan untuk menikmati masa muda.

Padahal, pelajar adalah tonggak awal majunya budaya dan peradaban bangsa. Dimana para pelajar diminta untuk melakukan akselerasi penalaran budaya kepada seantero lapisan kehidupan masyarakat. Namun, Mengapa masih banyak pelajar yang berkobar-kobar melakukan penyimpangan-penyimpangan norma dan budaya terhadap apa yang seharusnya pelajar itu kontribusikan kepada khalayak luas?

Kondisi pelajar seperti ini yang patut kita khawatirkan. Jangan sampai pelajar era milenial asing dengan budaya sendiri. Jangan sampai pelajar kontemporer seperti sekarang ini menjadi kepompong yang gagap dalam menyongsong peradaban budaya Indonesia. Maka disinilah kita butuh sosok pelajar cerdik pandai dalam menguatkan nilai budaya, meneguhkan nalar berbudaya-intelektual, dan melestarikan budaya bangsa demi terwujudnya tujuan dan cita-cita nasional. 

Budaya dalam Kacamata Kuntowijoyo

Menurut sudut pandang Kuntowijoyo mengenai budaya, kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adatistiadat, kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Nah, redaksi mengenai budaya yang dikemukakan Kuntowijoyo tersebut, kita sebagai pelajar berbudaya tentu harus sering-sering mawas diri. Kuntowijoyo menegaskan bahwa budaya itu berkaitan erat dengan kompleksnya kehidupan yang kita jalani. Setiap aspek kehidupan pasti terdapat unsur budayanya, seperti adat-istiadat, rumah adat, kesenian, bahasa daerah, dan lain sebagainya. Hal tersebut menunjukkan bahwa budaya telah mendarah daging dengan kehidupan kita. Karena kita berasal dari tanah air yang sama dan dari nenek moyang yang sama. 

Terkhusus dalam hal pengetahuan dan moral, Kuntowijoyo memberikan perhatian lebih bahwa pengetahuan dan moral bisa kita ubah, bisa kita upayakan, dan bisa kita kembangkan dengan terus belajar. Dalam artian, pengetahuan dan moral ini tidak stagnan, tetapi bisa kita transformasikan menjadi lebih baik yang kemudian kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan berbudaya. Dengan pengetahuan kita yang ensiklopedis, kita pasti mampu menciptakan lingkungan masyarakat yang paham dengan budaya dan mampu menghadirkan masyarakat yang mempunyai daya pikir kritis dalam memfilter budaya asing yang masuk, baik masa sekarang maupun di masa yang akan datang.

Moral juga tidak kalah penting, dengan adanya kepercayaan, kesenian, hukum, dan adat-istiadat, moral manusia terbilang "terselamatkan". Mengapa? Karena menurut Kuntowijoyo, moral manusia terbentuk akibat budaya, dengan budaya aturan terbuat dan pola kehidupan terwujud, sehingga masyarakat pada zaman dahulu, otomatis melakukan sesuatu hal dengan penuh kehati-hatian yang menjadikan manusia pada zaman dahulu memperhatikan perilaku agar sesuai dengan norma (bermoral). Namun, pada masa sekarang sering terjadi pergeseran nilai-nilai moral. Anehnya, masyarakat merasa amanaman saja. Padahal, sudah jelas-jelas kita merusak budaya kita, budaya bermoral dari nenek moyang kita. Oleh karena itu, kita sebagai pelajar berbudaya harus terus memperbaiki moral kita, sehingga kita mampu berprogres dalam berbudaya dan selalu melestarikan budaya kita.

Intelektual Dibutuhkan dalam Berbudaya


Comments

Popular posts from this blog

Kacang itu Berkulit, Eh Apa Benar?

23 Agustus 2022, Nyolo.

Capek Ya?