Pt 2 Afirmasi Pelajar Bernalar Budaya-Intelektual

 Intelektual Dibutuhkan dalam Berbudaya

Pasalnya, kebudayaan selalu identik dengan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya buah tangan masyarakat. Maka dari itu, di dalam sebuah sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya tersebut, diperlukan daya pikir dan nalar kritis yang berujung pada intelektual para insan.


Karena, budaya-intelektual merupakan budaya yang dibangun untuk menumbuhkan nalar kritis, responsif, serta solutif terhadap isu-isu kontemporer yang sedang berkembang di masyarakat. Alhasil, manusia-manusia terkhusus para pelajar, dituntut mampu menjadi pedang sekaligus tameng dalam menggalakkan konsep budaya-intelektual tersebut.


Hal tersebut dipertegas oleh Azaki Khoirudin, dalam bukunya yang berjudul "Mercusuar Peradaban Manifesto Gerakan Pelajar Berkemajuan". Azaki Khoirudin dalam tulisannya mengatakan, "Melalui aktivitas tubuhnya yang berbentuk perbuatan, gagasan, dan pemikiran manusia dapat diwujudkan dalam bentuk konkret, yaitu bentuk-bentuk kebudayaan sebagai hasil karya cipta manusia." Melihat pemikiran Azaki ini, sudah terpampang jelas bahwa buah pemikiran manusia dalam konteks intelektual, menjadikan budaya itu kuat dengan hasil karya cipta perbuatan dan gagasan manusia melalui aktivitas tubuhnya.


Sebagai contoh intelektual, menurut Thaba’thaba’i, berpendapat bahwa laki-laki memiliki kelebihan intelektual dibandingkan dengan perempuan, yang karena kelebihan itu laki-laki lebih tabah dan tahan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Digambarkan oleh Thaba’thaba’i, bahwa buah hasil intelektual itu menjadikan seseorang mampu menaklukkan tantangan dan kesulitan hidup. Nah, dari kemampuan itu kita bisa menyaring budaya asing yang masuk mendoktrin akal pikiran kita dan memperbaiki moral budaya yang sudah tergeser dari tatanan yang semestinya. 


Pendapat Thaba’thaba’i mengenai perbedaan intelektual laki-laki lebih tinggi dari perempuan ada benarnya, tetapi tidak untuk kemudian perempuan jadi minder ataupun merasa dikucilkan, malahan jadikan hal itu sebagai pacuan kita untuk terus mengasah jiwa intelektual kita dan terbukti bahwa perempuan lebih sering mendapat peringkat 1 di kelas, ya kan? hehe. Karena mayoritas dari perempuan itu terkenal disiplin, entah itu disiplin mengatur waktu, disiplin di rumah, maupun disiplin belajar. Dengan kedisplinan tersebut, perempuan mampu mempertajam jiwa intelektualnya. Maka, laki-laki dan perempuan punya peran yang sama untuk ikut andil dalam menyongsong budaya-intelektual di masyarakat, terkhusus para pelajar.


Kembali pada pemikiran Kuntowijoyo, yang menegaskan bahwa budaya bisa menjadi relevan dengan mempunyai pemahaman dan moral yang etik serta budaya harus ikut serta dalam perkembangan zaman melalui karya nyata para pelajar intelektual.


Budaya Literasi Pelajar Jawa Tengah

"Namun, dengan banyaknya karya nyata yang muncul harusnya di iringi juga dengan semangat literasi untuk dijadikan sebagai landasan dalam gerakan. Kenyataannya di Jawa Tengah persentase minat baca hanya mencapai angka 25% dari sekitar 36 juta jiwa. Hal ini yang kemudian menjadi pekerjaan bagi para aktivis pelajar muhammadiyah untuk menjadi motor dalam setiap aktivitas literasi. Sehingga gerakan-gerakan yang di bangun oleh pelajar akan semakin kuat dalam strategi konsep ataupun aplikasinya ketika aktivitas literasi sudah menjadi budaya."

Kata-kata yang dilansir dari Buku Materi Musywil XXIII IPM Jawa Tengah ini diharapkan mampu menyadarkan seluruh pelajar Muhammadiyah di Jawa Tengah, lebih-lebih seluruh pelajar muhammadiyah di Indonesia. Penulis pribadi merasakan betapa pentingnya menggelorakan literasi di kalangan pelajar, karena dengan berliterasi kita mampu menumbuhkan dan menjaga eksistensi nalar dalam berbudaya, terkhusus budaya literasi.

Budaya literasi juga perlu pergerakan sebagai gebrakan untuk menumbuhkan budaya literasi di kalangan pelajar. Gebrakan yang ditunjukkan oleh IPM Jateng ini keren, pasalnya budaya literasi menjadi anggun ketika bersamaan dengan gerakan keilmuan. Dalam hal ini, pelajar memiliki tanggung jawab yang sangat penting, bagaimana berada di barisan depan dalam mengusung gerakan keilmuan. Pelajar muhammadiyah lah yang harus memelopori gerakan keilmuan ini, karena IPM memiliki tiga paradigma yang menjadi landasan berpikir, yakni: keilmuan, kritis terbuka, dan hati suci. 

Artinya, Pelajar Muhammadiyah mengemban amanat dalam memelopori nalar kritis dalam gerakan keilmuan dan berpikiran terbuka. Gerakan keilmuan akan memberikan reaksi semu apabila di dalamnya tidak diresapi dengan hati yang suci. Benar, gerakan keilmuan harus mempunyai hati yang suci. Karena dengan hati yang suci, pelajar akan mempunyai aqidah yang kokoh serta dalam pengamalannya bisa berpikir jernih dan mendalam. 

Setelah kita menerapkan tiga paradigma di atas, penulis berpandangan bahwa budaya literasi dengan konsep gerakan keilmuan perlu dimulai dari hal yang kecil. Pertama, membaca. Tidak usah banyak-banyak, kita taruh membaca satu hari satu halaman, kemudian berlangsung terus menerus. Kedua seperti halnya Kyai Haji Dahlan, beliau gemar berdiskusi. Bahkan, dengan orang yang berbeda keyakinan pun beliau ajak untuk berdiskusi, tidak usah muluk-muluk dimulai dengan berdiskusi mengenai hal yang sederhana, sebagai contoh berdiskusi tentang bermain game. Ketiga, aksi. Aksi di sini mencakup banyak hal, dari menulis, bersosialisasi, berargumen, dan lain sebagainya dalam tanda kutip masih berkaitan dengan gerakan keilmuan. 

Budaya literasi pun digemborkan oleh para tokoh Muhammadiyah dahulu kala, kita ambil contoh Buya Hamka. Kisah inspiratif datang dari Buya Hamka ini sangat monumental. Meskipun dalam keadaan dipenjara, dikurung dalam sel, tetapi pikiran kritis dan imajinasinya tetap berkeliaran sebebas dan sejauh mungkin. Hingga pada akhirnya beliau menciptakan karya tulisnya yang terbesar dan terkenal, yaitu Tafsir Al-Azhar.

***

Di akhir tulisan ini, penulis akan menegaskan beberapa poin-poin yang menurut penulis perlu diperhatikan dan dibenahi. Budaya itu perlu dijunjung dan disanjung. Pelajar berbudaya perlu digalakkan karena pelajar tanpa suatu budaya, tidak akan punya andil dalam kehidupan. Pelajar anti budaya ibarat, "Tong kosong nyaring bunyinya," ada wadahnya tapi tidak berisi. Banyak dari kalangan pelajar yang kurang bernalar kritis, banyak dari mereka yang anti membaca. 

Padahal, pelajar itu harus bisa mengikuti perkembangan zaman bukan terseret arus bersama zaman. Dalam artian, pelajar dituntut mampu menghadapi budaya-budaya asing yang bertentangan dengan budaya sendiri dan menyongsong peradaban budaya, bukan terseret budaya asing tersebut. Seperti maraknya budaya hedonisme dan konsumerisme, menjadikan pelajar tergeser dari tatanan yang ada.

Maka melalui tulisan ini, perlulah kita introspeksi diri, bercermin dengan realita-realita yang berkecamuk tak bersesuaian. Dengan banyak pengaruh yang masuk kita harus memperkuat budaya kita, terkhusus budaya-intelektual. Karena dengan menguatkan budaya-intelektual, kita mampu bernalar kritis dan tidak mudah termakan isu-isu yang belum diketahui validitasnya. Yaitu dengan budaya literasi, yang kemudian kita dituntun membaca, mendengar, berdiskusi, dan menulis, serta banyak hal lainnya yang secara tersirat kita menjadi pribadi yang intelek.

Melalui budaya literasi yang bersesuaian dengan gerakan keilmuan, IPM punya peran penting dalam mencerdaskan para pelajar. Dengan tiga paradigma; ilmu, kritis terbuka, dan hati yang suci, pasti pelajar muhammadiyah mampu mewujudkan pelajar-pelajar elegan dengan pemikiran-pemikiran yang memukau yang bisa menyebar luaskan budaya-intelektual.


DAFTAR PUSTAKA

 IMM Hajjah Nuriyah Shabran. (2021). Nalar Kritis Kader Muda Muhammadiyah. Sukoharjo: IMM Hajjah Nuriyah Shabran

 IPM Jawa Tengah. (2019). Blueprint Materi Musywil XXIII IPM. Semarang: IPM Jawa Tengah

 Khoirudin, Azaki. (2012). Fajar Baru Mempertajam Ujung Pena Pelajar Muhammadiyah Yang Mulai Tumpul. Bojonegoro: Ilmu Publisher

 Khoirudin Azaki. (2015). Mercusuar Peradaban Manifesto Gerakan Pelajar Berkemajuan. Bojonegoro: Nun Pustaka

 Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah. Yogjakarta: Tiara Wacana

 Roostin, E. (2016). Menuju Perspektif Baru Dalam Pembelajaran Dengan Pendekatan Sosial-Budaya Pada Anak, (7)2


Tulisan ini merupakan Lomba Penulisan Essay Semarak Musywil IPM Jawa Tengah di Boyolali pada 23-26 September 2021

...... (7)2.

Comments

Popular posts from this blog

23 Agustus 2022, Nyolo.

Kacang itu Berkulit, Eh Apa Benar?

Uniknya Idul Adha Tahun ini